“Tulisan Tanpa Tanda Kepemilikan”

Kala itu, di saat semua orang sudah mulai mengistirahatkan anggota tubuhnya yang mengeluh lelah setelah seharian menuruti kemauan si pemilik, satu orang dari mereka justru asyik memandangi sebuah botol kosong yang bergerak-gerak karena kipas angin yang masih berputar. Kadang botol itu bergerak ke kanan, kadang ke kiri, kadang berhenti karena kepala kipas angin itu berputar-putar ke seluruh penjuru ruangan. Mata orang itu dengan setia memandangi pergerakan botol. Anggia, nama orang itu. Seorang gadis yang sedang bergelut dengan pikiran-pikiran yang entah penting atau tidak, hampir setiap malam sebelum matanya lelah untuk memandang remang-remangnya kamar kos yang kadang telat dibayar. Anggia, seorang gadis yang tengah memperjuangkan pendidikan strata 1 di salah satu kota kecil di Jawa Timur. Hal-hal abstrak yang kadang memenuhi kepalanya, membuat Anggia terkadang ingin pingsan saja. Ini masih bulan Juni, perkuliahan sedang libur dan itu membuat Anggia tambah sering melamun dan tentu saja hal-hal aneh yang melintas di otak gadis itu jadi semakin banyak karena tidak ada tugas kuliah yang mendominasi otaknya.

Ada banyak hal yang sempat mampir di otaknya hari ini, seperti memikirkan di mana kunci kamarnya yang sempat terselip di tumpukan baju, di mana tempat percetakan yang murah untuk mencetak proposalnya, mau masak apa dengan uang lima ribu rupiah, mendahulukan mencuci baju atau memasak, dan lain-lain. Itu masih hal-hal yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat, belum lagi memikirkan hal-hal yang lebih ruwet untuk diselesaikan seperti bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan setelah lulus nanti, bagaimana mengumpulkan uang dari uang kiriman yang hanya cukup untuk bayar kos dan makan selama sebulan, dan yang mendominasi otaknya akhir-akhir ini adalah bagaimana menyikapi sahabatnya setelah kejadian satu minggu yang lalu.

Yah, setelah satu minggu yang lalu otaknya masih belum beranjak dari kebingungan untuk menyikapi sahabatnya. Kurnia, sahabat kecil yang selalu ada dalam keadaan apapun saat Anggia masih ada di kampung halamannya. Seorang lelaki baik hati yang dengan senang hati membantu dan mengusahakan untuk membantu Anggia dalam menghadapi masalah. Lelaki yang dengan relanya menampung semua keluh kesah yang keluar dari mulut cerewet Anggia, yang mengetahui bagaimana Anggia dan masalalunya. Saat Anggia telah pergi jauh pun dia tetap menjadi seseorang yang Anggia cari untuk menumpahkan keluh kesahnya selama di kota orang.

“Kurnia baik, dia pengertian, dia mengerti aku dan keluargaku, dia tahu kekuranganku dan masih mau menemaniku.” Tuhhh kan, Anggia masih memikirkan Kurnia sampai tengah malam seperti ini.

“Tapi… kenapa otak dan hati punya kemauan yang berbeda tentang ini.” Dan.. dia bingung lagi.

Anggia mengubah posisi dari yang semula tengkurap menjadi terlentang, kedua telapak tangannya menutupi kedua mata dengan kaki yang memenuhi ranjang.

“Ah! Kepalaku selalu berdenyut-denyut setiap memikirkan ini. Apa aku sudah terlalu tua untuk memikirkan ini sekarang, hah!.” Dia mengentakkan tangannya di kasur dengan mata memicing.

Anggia benci untuk memilih, ia lebih suka dipilihkan saja. Membeli baju di pasar saja dia malas memilih dan lebih suka jika ibunya langsung membelikan saja baju untuk Anggia, terserah mau yang bagaimana, Anggia yakin ibunya punya pilihan yang bagus untuk dirinya. Tapi, semakin ke sini Anggia sadar kalau tidak semua hal tersedia begitu saja atau terpilihkan begitu saja tanpa pertimbangan diri sendiri. Ada yang harus dipertimbangkan sendiri olehnya, memilih seseorang untuk disayangi misalnya. Haha.. sebenarnya itu adalah inti dari permasalahan gadis itu. Ada dua lelaki yang sangat berbeda, dari penampilam, kesukaan, kebiasaan, nyaris tidak ada yang sama dari dua lelaki itu.

”Aku nggak mau membebani kamu dengan ini kok, Gi. Setelah ini kamu bisa bersikap seperti biasanya ke aku.”

Kalimat di atas adalah kalimat yang seminggu lalu keluar dari mulut Kurnia yang langsung mendapat umpatan hati Anggia.

“Enak banget yaa ngomong gitu, aku juga pengennya gitu. Tapi nyatanya sampai sekarang aku mumett!” Anggia menggigit ujung bantal.

——————————————————————————————–

Setelah kejadian itu, Anggia menyadari satu hal: ada beberapa hal yang mengharuskan dirinya untuk memilih dengan sebenar-benarnya memilih. Ia tidak bisa mengabaikan pernyataan Kurnia begitu saja. Pernyataan itu adalah pernyataan pertama dari Kurnia, dan juga kalimat horror pertama yang di dengar Anggia mengenai sebuah hubungan. Untuk pertama kalinya selama kuliah, Anggia ingin disibukkan dengan tugas saja.

Kurnia: “Kamu berangkat kapan?”

Anggia: “Minggu depan, tapi belum beli tiket.”

Kurnia: “Yah, aku nggak bisa anter kamu dong. Aku mau ke luar kota sabtu nanti.”

Anggia: “Hehe, iya nggak papa.”

Anggia menghela napas, merasa sedikit lega. Malah bagus pikirnya, ia tidak perlu menyiapkan sikap seperti apa yang harus ditampilkan ketika bertemu lagi dengan cowok itu, apalagi di depan keluarganya.

Setelah membalas pesan singkat itu, Anggia tidak lagi berminat membuka aplikasi pesan itu. Gadis itu lebih memilih untuk membuka buku agendanya. Sebenarnya buku itu sudah penuh, hanya saja ia tertarik untuk membaca ulang apa yang telah ditulisnya dahulu, tepatnya satu tahun yang lalu. Sudut bibirnya terangkat ketika menyadari betapa nelangsanya dirinya dulu, saat dia belum bisa melepaskan bayangan-bayangan yang menyakitinya. Yah.. walaupun tulisan itu sedikit menjijikkan untuk dibaca, tapi Anggia suka.

Tidak semua halaman dibukanya secara detail, hanya lompat-lompat saja. Tiba di bagian terakhir buku itu, Anggia terkejut. Tulisan tanpa tanda kepemilikan yang berisi kata-kata penyemangat dan nasehat. Tidak ada nama penulisnya di situ, tapi Anggia seolah hapal dengan tulisan tangan itu. Seketika hatinya menghangat, kupu-kupu seperti berterbangan di dalam perutnya. Otaknya memutar beberapa kisah yang sempat terekam dengan jelas di memori ingatannya. Dibukanya lagi, sekali lagi buku itu dibolak-balik tiap lembarnya. Dan benar saja, tidak hanya satu. Tulisan tangan orang itu tidak hanya di satu halaman.

Senyum mengembang dengan sempurna, jika teriak adalah suatu hal yang tidak membuat orang kaget, mungkin Anggia sudah melakukannya sejak ditemukannya tulisan pertama tadi. Sayangnya, tidak bisa seperti itu. Seperti es krim yang disiram coklat panas, Anggia meleleh. Terlintas dalam pikirannya untu membuka smartphonenya dan menanyakan langsung kepada seseorang yang ia yakini pemilik tulisan tanpa tanda kepenulisan itu. Anggia yakin sekali, karena tidak ada yang membuka buku itu, kecuali manusia lancang yang satu itu. Tanpa pikir panjang, aplikasi pesan sudah dibukanya. Mencari kontak nomor seseorang, dan mengetik beberapa kata di sana.

Anggia: “Siapa yang memberimu izin mencoret-coret buku milikku?”

Hanya itu saja. Pesan itu dikirimnya. Anggia yakin, pesan itu tidak akan langsung sampai dalam waktu dekat. Mungkin besok atau lusa karena memang orang itu hampir tidak pernah terlihat online. Tapi tidak masalah, Anggia seolah tidak keberatan sama sekali. Senyumnya masih mengembang saat melihat pesan yang dikirimnya itu. Setelahnya, rasa serba salah menyelimuti dirinya. Di satu sisi, gadis itu menyadari ada yang berbeda rasanya ketika dirinya berinteraksi dengan Aldeno, yah nama cowok yang lancang itu adalah Aldeno. Dulu, Anggia berpikir jika dirinya hanya sekedar naksir sesaat dengan cowok itu. Anggia memang suka begitu, naksir seseorang yang hanya berlaku beberapa minggu dan setelahnya ia merasa biasa saja.

Tapi ini, rasanya bukan sekedar naksir. Sudah hampir dua tahun ini, Anggia selalu merasa dunianya berbeda jika Aldino ada. Hampir setengah tahun ini, interaksi Anggia dan Aldeno mengalami peningkatan. Anggia rasa, bukan hanya dirinya yang merasakannya. Ia yakin Aldeno juga sama. Tapi, Anggia tidak bisa sebahagia itu sekarang. Tiba-tiba Kurnia datang, setelah satu tahun lebih cowok itu tidak menghubunginya. Kedatangan Kurnia yang membawa peryataan tak terduga membuat Anggia kelimpungan. Tidak bisa, Anggia tidak bisa menyakiti hati sahabatnya dengan mengatakan “Tidak” atau “Maaf”. Namun, tidak bisa pula Anggia mengabaikan Aldeno yang sebenarnya sedang ia perjuangkan perasaannya.

“Tuhan bisa saja membolak-balikkan perasaanku. Tadi aku bimbang, setelahnya aku sangat gembira, tidak lama aku resah seperti ini.” Anggia tertawa kecil menyadari betapa lucunya ia hari ini.

“Al, kalau nanti waktu memutuskan kita untuk bersama, Aku pasti bahagia sekali. Tapi, kalau nyatanya kita memang tertuliskan untuk hanya sekedar pemeran pembantu di cerita kita masing-masing, aku harap aku tertuliskan untuk iklas menerima.”

“Aku pengennya kamu yang menyatakan, Al. Bukan Kurnia, atau dia, atau dia yang lainnya.”

“Maaf, Kur. Aku tidak bisa menenggelamkan sesuatu yang dengan sepenuh hati aku perjuangkan untuk sekarang. Katamu, aku bebas menentukan. Sekarang, aku pilih untuk memperjuangkan perasaanku dulu ya, Kur. Nanti kalau kita memang di satukan, aku yakin kita akan memiliki kisah yang bahagia.”

Kalimat terakhir itu, penutup pesan basa-basi yang dikirimkan Kurnia malam itu. Setelahnya, Anggia tidak membuka pesan lagi, entah bagaimana reaksi dan tanggapan dari Kurnia. Anggia memilih menenggelamkan dirinya dalam mimpi secepat mungkin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s